|
Perkembangan ICT Cina |
|
|
|
Cina, saat ini, telah menjadi ‘kiblat’ gelombang perubahan ekonomi baru. Dengan potensi pasar dalam negeri dan skala industrinya yang masih sangat besar, membuat semua kekuatan ekonomi besar, Eropa dan Amerika, memandang Cina lebih sebagai ancaman yang mengkhawatirkan. Pemerintah Cina begitu cerdik dan efektif dalam memanfaatkan semua potensi internal dan eksternal untuk mengejar ketertinggalannya. Dalam dekade terakhir, Industri ICT di Cina benar-benar telah meraih kemajuan dan pencapaian fenomenal, yang tidak dapat dicapai oleh industri lain, seperti otomotif. Dari ukuran apapun, Cina adalah yang terbesar dalam jumlah pelanggan telepon, mobile , jumlah TV, dan nomor dua dalam jumlah pengguna web. Di sektor manufaktur, ICT juga berkembang pesat. Jumlah produksi TV dan sistem sentral, Cina adalah yang terbesar di dunia. Meski Inisiatif ICT telah berkembang pesat, namun Cina belum mencapai pertumbuhan maksimumnya. Masih terdapat kesenjangan yang besar antara Cina dan negara maju di sektor ICT, terutama jika ditengok dari densitas per jumlah penduduk. Tingkat pembangunan ekonomi Cina masih rendah, meski Cina telah menikmati 20 tahun pembangunan yang sangat cepat dan kontinu. GDP per kapita baru sekitar USD 1000. Proses transformasi ekonomi menuju ekonomi pasar telah terbentuk meski belum sepenuhnya, antara lain dengan bergabung di WTO untuk ikut serta dalam proses globalisasi ekonomi. Kekuatan penggerak inisiatif ICT di Cina utamanya datang dari pemerintah ( push government ). Sebagai gambaran, konstruksi industri ICT di Amerika, saat ini, tidak mungkin terwujud tanpa dorongan dari pemerintah Clinton & Gore, demikian pula kampanye ICT seluruh dunia tidak akan seperti saat ini. Di Cina, kekuatan pendorong dari pemerintah bahkan lebih besar. Penggerak kedua adalah tarikan pasar. Pasar domestik yang besar dan semakin terbuka mengakibatkan meningkatnya kebutuhan ICT. Ketiga adalah efek katalis dari lingkungan pergaulan internasional, yang saling membutuhkan. Pendekatan Reformasi ICT Untuk memberi gambaran yang meyakinkan, ada baiknya dibandingkan bagaimana model reformasi ICT yang dilakukan di Cina dengan yang dilakukan di India. Reformasi Industri ICT mengambil telekomunikasi sebagai lokomotif yang menarik industri ICT lainnya. Pada dekade 1990an, Cina dan India sama-sama mulai melakukan upaya mengejar ketertinggalan bidang industri ICT. Dengan penduduk terbesar di dunia, Cina dan India menghadapi kontradiksi antara fondasi ekonomi yang ‘miskin’ dengan tuntutan industrialisasi, urbanisasi, dan modernisasi sosial ekonomi. Ada kesamaan dalam model pengembangan. Pada tahap awal, pemerintah mengambil monopoli langsung, kemudian peran pemerintah dipisahkan dari pengelolaan peerusahaan, yang selanjutnya kompetisi diperkenalkan. Akibat lingkungan institusional yang berbeda, industri telekomunikasi mengambil pendekatan model pembangunan dan reformasi yang berbeda. Cina mengadop Kebijakan “ development before reform ” sebagai langkah penguatan diri untuk mengejar ketertinggalan. Prioritas utamanya pada pembangunan industri telekomunikasi. Setelah besaran ( size ) industri tumbuh, monopoli secara bertahap dihapus melalui pengenalan kompetisi, yang diikuti dengan reformasi dan reorganisasi. Sebelum reformasi dimulai, Cina melakukan investasi besar di infrastruktur industri dengan serangkaian kebijakan modernisasinya. Hal itu kemudian membuka jalan reformasi industri ICT secara menyeluruh. Dengan pengelolaan usaha tetap pada BUMN untuk memastikan kendali pemerintah, kompetisi diperkenalkan, dan China Telecom dipecah dan direorganisasi, kemudian secara bertahap menjadi perusahaan publik dengan mengadopsi berbagai metoda financing yang umum dalam industri yang sudah mapan. Setelah yakin bahwa fondasi untuk mandiri cukup kuat, kemudian dibukalah pasar kompetisi untuk para pelaku asing. Sebaliknya, India mengambil model pendekatan radikal yaitu ” reform before development ”. Prioritas pertamanya mereformasi industri telekomunikasi. Tujuannya adalah agar dapat melakukan lompatan pembangunan telekomunikasi melalui reformasi drastis dan pengenalan kompetisi untuk menghapus monopoli. Ketika infrastruktur dan teknologi telekomunikasi masih terbelakang, fondasi industri masih rapuh, dan monopoli alami masih berlaku, India berharap dapat memromosikan investasi domestik dan asing di industri telekomunikasi guna mengatasi ketertinggalan pembangunan jaringan, melalui pembukaan pasar, pengenalan perusahaan swasta murni, dan privatisasi. Namun, karena kestabilan ekonomi dan politik yang masih lemah, pengenalan reformasi industri ini tidak memberi hasil yang memuaskan. Pada saat fondasi masih lemah, maka masalah kesulitan pembiayaan dan ketertinggalan infrastruktur tidak bisa dipecahkan dengan kompetisi dan pembukaan pasar. Berbeda dengan negara maju, seperti Eropa atau Amerika, reformasi diluncurkan ketika sistem ekonomi pasar kapitalis telah mapan, dan regulasi pasar termasuk kompetisi dan struktur permodalan usaha telah terbangun kokoh Fakta menunjukkan, di awal 1990an, tingkat penetrasi sambungan telepon masih sangat rendah sekitar, yaitu 1,1% di Cina dan 0,7% di India. Melalui dua puluh tahun reformasi dan penyesuaian, saat ini Cina dan India masing-masing berada pada urutan pertama dan ke delapan dalam penetrasi telekomunikasi. Menurut sejumlah pakar, Industri telekomunikasi India tertinggal 5-8 tahun dari Cina. Untuk indeks utama posisi Nopember 2004, India memiliki tingkat penetrasi 4,1% untuk telepon, yaitu 44,31 juta telepon dan 4,3% untuk pengguna mobile yaitu 46 juta penguna, dengan cakupan area rural mencapai 83%. Sementara itu, Cina telah mencapai tingkat penetrasi 24,5% untuk telepon, 6 kali India, yaitu sebesar 313 juta lebih; sedang penetrasi mobile mencapai 24,8%, 5,8 kali India, yaitu sebesar 329 juta lebih. Cakupan adminstratif area rural di Cina telah mencapai 89,8% atau 6,9 % di atas India. Dari sisi performansi finansial, tahun 2003 China Mobile telah meraih laba bersih 35,56 Milyar Yuan yang memberi pertumbuhan sekitar 19,4% dibanding 2002. Sebaliknya pada 2002, perusahaan telekomunikasi India mengalami akumulasi kerugian 77 Milyar Rupee (sekitar 19,25 Milyar Yuan). Disamping itu, perusahaan India mengalami rasio hutang terhadap aset yang sangat besar, hampir 70%. Dari sisi layanan juga ada perbedaan tarif telekomunikasi, kualitas layanan, dan produktivitasnya. Namun, di sisi lain, India mampu menghasilkan kekuatan industri perangkat lunak yang menjadi simpul penting pertumbuhan nasionalnya. Akibat konflik antar partai, penggatian pemerintahan yang cepat, institusi yang kurang sempurna, mengakibatkan kemajuan secara agregat tidak sepenuhnya diperoleh. Perbedaan hasil capaian yang demikian besar, akar utamanya adalah perbedaan sistem industri. Sistem adalah aturan main dalam sebuah masyarakat yang saling berinteraksi. Sistem menurut Masahiko Aoki (1995), meliputi kepemilikan, aturan legal, pasar, organisasi, akar budaya, dan norma-norma sosial. Pemilihan sistem yang berbeda menentukan keluaran dari sistem yang juga berbeda. Beberapa Masalah Industri ICT Cina Karena reformasi industri telekomuniksai di Cina diluncurkan melalui transisi dari sistem ekonomi terencana menuju ekonomi pasar sosialis, Cina belum bisa sepenuhnya menghilangkan kendala intervensi pemerintah dalam permodalan dan monopoli aset BUMN. Besarnya pengaruh sistem politik dan kepentingan kelompok, sistem regulasi di industri telekomunikasi Cina masih sangat kaku, dan langkah reformasi masih akan panjang. Pertama , lemahnya legal framework , yang mengakibatkan belum adanya satu undang-undang khusus untuk area ICT. Yang ada baru ukuran-ukuran administratif. Kedua , kurangnya konten layanan, yang menjadi masalah klasik di industri ICT di seluruh dunia, tetapi di Cina cukup parah. Ketiga , Cina masih menemui persoalan kesenjangan antara urban dan rural. Keempat , masalah kesia-siaan investasi setelah pembangunan yang agresif. Problem serupa yang dihadapi Amerika saat ini adalah over-investment . Diperkiraan, utilisasi infrastruktur fiber optik di Cina saat ini baru 10% dibandingkan Amerika yang sekitar 1%. Kelima , belum adanya satu standar dalam penerapan aplikasi layanan e-government , umumnya masing-masing daerah dengan caranya sendiri. Jika kelak distandarisasi, kemungkinan akan banyak yang harus diulang dari awal, sehingga menjadi sumber pemborosan. Yang terpenting, dalam penciptaan nilai tambah ekonomi, adalah karya inovasi. Meski industri manufaktur berkembang pesat, Cina masih kurang dalam produk yang punya hak cipta. Di Industri manufaktur, harga produk elektronik terus menurun. Pada 2001 total nilai output industri untuk produk elektronik tidak bertambah secara signifikan. Nilai tambah industri hanya sekitar 1,85% dari GDP. Ditambah nilai tambah dari sektor jasa, total proporsi ICT adalah 4,2%. Masih setengah dari Amerika yang mencapai 8,4%. Saat ini, skala sektor manufaktur sangat besar, yakni di kisaran 800 Milyar Yuan dimana industri mengontribusi sekitar 170 Milyar Yuan, atau sekitar 21%, awalnya 30%. Hal ini menunjukkan bahwa banyak teknologi yang masih diimpor, dan nilai tambahnya bukan di Cina. Di negara maju, kontribusi nilai tambah industrial telah mencapai 50%. Industri high-tech di Cina belum bisa dikatakan high-tech karena dana R&D masih rendah, kurang 10% dari penjualan. Tanpa karya cipta sendiri, maka akan sulit meraih nilai tambah. Sebagai gambaran diperlihatkan table perkembangan ekpor ICT Negara Cina Sbb. : Tabel 1 Pertumbuhan Ekspor ICT China Ke AS Di Banding Negara Lain Di Asia (%)
Total Ke AS China Indonesia Malaysia Philippines Thailand Singapore Korea
1994 24.9 68.3 66.4 49.6 36.9 29.9 30.9 29.9 1995 24.0 25.7 3.0 21.2 11.3 13.5 27.9 41.7 1996 4.7 26.5 33.1 2.2 210.4 2.3 12.4 -10.6 1997 11.0 34.9 -9.6 5.4 50.8 27.8 0.3 -6.2 1998 5.5 30.8 -32.8 13.3 22.7 11.8 -5.8 -1.9 1999 15.5 21.8 5.3 28.0 8.4 3.5 2.2 42.0 2000 25.2 36.1 156.7 30.3 10.8 17.3 11.5 39.7 2001 -15.7 13.5 -9.5 -8.6 -26.5 -17.3 -22.3 -28.7 2002 1.5 49.9 2.1 22.2 -2.3 27.3 -1.9 4.3 2003 7.9 56.6 -15.0 4.8 -24.0 -17.5 5.7 8.4 2004 20.7 48.1 33.7 15.6 -42.0 57.3 20.6 30.3
Source: Calculated by the author based on UN Comtrade.
Di Negara China barang ekspor ICT sudah mengalami pertumbuhan cepat karena sejak awal tahun 1990, telah menjual berbagi barang ICT, keduanya Jepang dan AS sudah bangkit tajam. Di 2004, barang ekspor ICT China untuk Jepang mencapai 26 per sen dari import/ masukan ICT, produk total nya, diatas dari 2%. pada 1992. Di negara Amerika Utara, Barang ekspor Cina juga menunjukkan pertumbuhan mengesankan dan yang dibukukan 19% dari total barang ekspor ICT asing untuk AS ,pada tahun 2004 membandingkan untuk kurang dari 1%. Dampak dari barang ekspor ICT Cina pada ungulan yang terpilih enam negara-negara Asia bertukar-tukar ke seberang negara-negara dan kategori produk. Analisa yang empiris menunjukkan bahwa yang paling cepat pertumbuhan Cina. Barang ekspor mempunyai suatu efek kurang baik pada untuk Singapura, Negara Kore ketika penguasaan pasar dari negara-negara ini berkurang pada hakekatnya ketika China mempunyai sebagian saham yang ditingkatkan Karena Malaysia Dan Thailand, dampaknya adalah jelas dan dihubungkan dengan kategori produk yang spesifik: barang ekspor ICT Indonesia, memperluas bersama-sama dengan mereka yang Nego dengan yang banyak perusahaan multinasional sudah menampung kapasitas produksi mereka ke dalam Negara China dan kebanyakan dari barang ekspor ICT Cina dan dihubungkan dengan perusahaan diinvestasikan asing. Penguasaan pasar penyusutan berhubungan dengan naik keberadaan Barang ekspor Cina di China, Pilipina di tahun 1992.
Penutup Ke depan, tidak banyak lagi ruang pengalaman yang tersedia sebagai referensi seperti Cina saat ini dalam industri telkomunikasi dunia. Tahun 2006, merupakan masa yang berisiko untuk pembangunan industri telekomunikasi di Cina. Setelah tahun-tahun investasi besar dilalui, tahun 2006 diharapkan menjadi tahun pengembalian biaya dan perolehan keuntungan. Di satu sisi, kompetisi yang meningkat akan menekan keuntungan perusahaan. Disisi lain, teknologi baru akan mengakibatkan investasi tambahan. Tekanan meningkat pada aspek operasi, membuat keuntungan industri secara keseluruhan akan menurun dan muncul defisit. Tahun 2006 merupakan tahun dimulainya Cina memenuhi komitmen penuh kepada WTO. Pemerintah Cina telah mengantisipasi hal itu dan mulai merancang dan menyempurnakan perundangan dan regulasinya dengan melibatkan semua stakeholder . Negeri tercinta Indonesia nan besar ini dan terus dirundung kerumitan, semoga juga bisa belajar dari negeri besar, baik Cina maupun India. Di Negara China barang ekspor ICT sudah mengalami pertumbuhan cepat karena sejak awal tahun 1990, telah menjual berbagi barang ICT, keduanya Jepang dan AS sudah bangkit tajam. Di 2004, barang ekspor ICT China untuk Jepang mencapai 26 per sen dari import/ masukan ICT, produk total nya, diatas dari 2%. pada 1992. Di negara Amerika Utara, Barang ekspor Cina juga menunjukkan pertumbuhan mengesankan dan yang dibukukan 19% dari total barang ekspor ICT asing untuk AS ,pada tahun 2004 membandingkan untuk kurang dari 1%. Dampak dari barang ekspor ICT Cina pada ungulan yang terpilih enam negara-negara Asia berbagi dengan negara-negara dan kategori produk.
Anggota Kelompok : 1. Samin NIM. 0802945 2. Tumijo NIM. 0802963 3. Supriyono NIM. 0802949 Mahasiswa S1 Kedua DEPAG Prodi Kurikulum & Teknologi FIP UPI
|
|
|